JAYAPURA, (KT)– Memasuki bulan kedua di tahun 2026, seruan perdamaian menggema dari para pemimpin gereja di Tanah Papua. Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Papua (PGGP) dan Ketua Sinode Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) secara bersamaan mengeluarkan pernyataan tegas: hentikan kekerasan dan dukung penuh upaya pengamanan negara.
Meskipun situasi Kamtibmas secara umum dinilai stabil, para tokoh agama menyoroti beberapa insiden berdarah yang mencederai nilai kemanusiaan dalam beberapa pekan terakhir, termasuk aksi penembakan brutal di wilayah pegunungan dan serangan terhadap awak penerbangan sipil di Korowai.

Kekerasan yang Melukai Nilai Iman
Ketua Umum PGGP, Pendeta M.P.A Maury, mengungkapkan kekecewaan mendalam atas rentetan aksi penembakan yang dinilai sengaja menyasar masyarakat sipil dan petugas pelayanan publik.
“Agama apa pun tidak akan mentolerir penembakan. Tindakan ini tidak manusiawi dan mencederai kesucian hidup yang kita junjung tinggi,” tegas Pdt. Maury.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Sinode GKII di Tanah Papua, Pdt. Petrus Bonyadone, M.Th., menekankan bahwa profesi seperti pilot dan tenaga medis adalah ujung tombak pelayanan di daerah terpencil. Menyerang mereka sama saja dengan memutus urat nadi kehidupan masyarakat Papua.
“Nyawa ada di tangan Tuhan. Tidak ada manusia yang berhak merampasnya. Papua adalah Tanah Injil, dan kekerasan sama sekali tidak memuliakan Tuhan,” ujar Pdt. Bonyadone.
Dukungan Penuh untuk Satgas Damai Cartenz
Kedua pemimpin gereja ini memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi Polri dan Satgas Damai Cartenz 2026. Mereka menilai kehadiran aparat keamanan sangat krusial dalam memberikan rasa aman, terutama di wilayah-wilayah yang rawan konflik.
Beberapa poin dukungan yang disampaikan antara lain:
* Perlindungan Masyarakat: Mengapresiasi langkah cepat Satgas dalam mengawal aktivitas warga dan menjaga fasilitas publik.
* Pendekatan Persuasif: Mendukung penegakan hukum yang terukur dan tetap mengedepankan sisi kemanusiaan.
* Stabilitas Ekonomi & Pendidikan: Menyadari bahwa tanpa keamanan, akses kesehatan, pendidikan anak-anak, dan ekonomi keluarga akan lumpuh.
Ajakan Menopang Lewat Doa dan Kepatuhan
Di akhir pernyataannya, para tokoh agama ini mengajak seluruh jemaat dan masyarakat Papua untuk tidak terprovokasi dan tetap patuh kepada pemerintah (eksekutif, legislatif, dan yudikatif).
“Kita mungkin tidak bisa mengangkat senjata atau ikut berpatroli, tetapi kita bisa membantu dengan doa. Mari kita topang TNI, Polri, dan pemerintah agar Tanah Papua tetap menjadi tanah yang aman, damai, dan penuh harapan di tahun 2026 ini,” tutup Pdt. Maury.
Melalui sinergi antara doa dari mimbar gereja dan kerja nyata aparat di lapangan, diharapkan stabilitas keamanan di Papua dapat terus terjaga demi kesejahteraan seluruh rakyat Bumi Cenderawasih.












