Daerah  

Hujan Batu Warnai Unjuk Rasa Penolakan Rasisme di Mimika

Hujan Batu Warnai Unjuk Rasa Penolakan Rasisme di Mimika

TIMIKA (KT) – Masyarakat asli Papua di Kabupaten Mimika melakukan aksi unjuk rasa menentang rasisme yang terjadi di Surabaya, Malang dan Semarang berapa waktu lalu. Kendati demikian, aksi yang dilakukan di Kantor DPRD Mimika, Rabu (21/8/2019) berakhir ricuh.

Pantauan Kawattimur, hujan batu terjadi disaat massa mulai ricuh didalam halaman DPRD karena adanya lemparan batu dari luar halaman gedung DPRD, kemudian berlanjut pelemparan batu terhadap aparat serta fasilitas yang ada.
Kendaraan milik TNI-Polri yang disiagakan di tempat konsentrasi massa itu pun rusak. Aparat kepolisian dengan menggunakan tameng pun menembakkan gas air mata hingga sempat massa kocar-kacir berhamburan.

Akibat persitiwa tersebut, sejumlah kios tutup sehingga pusat perekonomian terhenti. Beberapa kantor instansi pemerintah di SP 2 ditutup. Sedangkan Kantor KPPN, Kantor BPJS Ketenagakerjaan, Hotel Grand Mozza rusak dilempari dengan batu.

Selain itu, anggota kepolisian maupun TNI mengalami luka akibat lemparan batu.
Usai kericuhan, pihak TNI-Polri kemudian melakukan penyisiran dan patroli untuk mengantisipasi kejadian yang berulang.

Kapolres Mimika, AKBP Agung Marlianto mengatakan, dari data sementara yang dimilikinya, sebanyak 45 orang yang melakukan tindakan anarkis dan perusakan berhasil diamankan. Antara lain, 20 orang melakukan perusakan hotel Grand Mozza, 10 orang melakukan pembakaran ban dan bak penampung sampah di samping gedung Eme Neme Yauware, serta ditambah 15 orang anggota Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang sejak pagi diamankan karena hendak menyusup dikerumunan massa untuk melakukan tindakan anarkis saat unjuk rasa berlangsung.

“Kita proses penegakkan hukum. Sekali lagi tidak ada yang bisa membenarkan upaya unjuk rasa yang berujung anarkis dengan pengrusakan seperti itu,” tegas Kapolres saat ditemui usai membubarkan massa.

Kapolres yang juga mengaku terkena lemparan batu mengatakan bahwa pihaknya sementara melakukan pendataan baik itu kendaraan roda dua dan roda empat milik warga, maupun kendaraan milik aparat yang juga dirusak massa untuk mengetahui kerugian materil akibat persistiwa tersebut.

“Sampai saat ini saya belum ada pendataannya. Kalau cuma terkena lemparan, saya juga kena lempar, tapi nggak papa. Itu bagian dari dinamika kita. Nanti kita akan lakukan pendataan dan kita laporkan lebih lanjut,” ujar Kapolres. (AWA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *