Wamena (KT) – Masyarakat Melakukan aksi Swadaya guna membangun Jembatan Hewet yang ada di Distrik Assotipo Kabupaten Jayawijaya.
Upaya tersebut adalah salah satu bukti kepedulian Mesyarakat Wilayah 1 Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua, yang hendak membangun dirinya tanpa ada bantuan dan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Yahukimo dan juga Kabupaten Jayayawijaya.
Jembatan Hewet terletak di kampung Sogokmo Distrik Asotopo Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua.
Keberadaan Jembatan itu sendiri selama ini sering rusak akibat Faktor alam, namun tidak pernah dilihat atau menjadi bagian dari pemerintah, Baik Pemerintah Yahukimo maupun Pemerintah Jayawijaya.

Melihat tingkat kebutuhan akan transportasi, maka masyarakat wilayah 1 (satu) Dari Distrik Tangma, Distrik Ukha, Distrik Kurima, mengambil inisiatif sendiri dan bekerja sama dengan bergotong-Royong membangun Jembatan Hewet Distrik Asotipo Kabupaten Jayawijaya.
Untuk membangun jembatan yang dimaksud masyarakat harus memikul kayu dasar dari kali Jetni, sedangkan Kayu yang dimaksud berukuran kurang lebih panjang 16 meter, dimana masyarakat harus ramai-ramai memikul dari Kali Jetni dengan menempuh jarak kurang lebih 1,5 Kilometer.
Sekalipun Jaraknya cukup jauh, namun kepedulian dan semangat masyarakat sangat luar biasa sehingga untuk bekerjasama mengangkat kayu tersebut, walaupun harus dengan berjalan kaki.
Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua ( Pembela HAM Se-Dunia ), Theo Hesegem, mengakui, tindakan yang dilakukan masyarakat bukan mengkritisi Pemerintah Yahukimo Dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, tetapi ini kenyataan yang sedang terjadi.
Oleh sebab itu, dirinya mengharapkan kepada pemerintah untuk dapat melihat dengan jelih upaya swadaya yang sedang dilakukan oleh Masyarakat sipil.
“Pekerjaan ini sebuah jembatan ini sebenarnya, layak dikerjakan oleh Pemerintah Kabupaten Jayawijaya dan Pemerintah Kabupaten Yahukimo. Perlu ketahui bahwa Jalan Kurima, Wamena adalah jalan Trans antar lintas Kabupaten, oleh sebabnya Pemerintah Provinsi Papua, perlu melihat dan memperhatikan pekerjaan Swadaya yang sedang dikerjakan masyarakat,” kata Theo Hesegem.
Menurutnya, pekerjaan swadaya yang dilakukan oleh masyarakat ini harus diambil contoh oleh pemerintah, karena sangat memalukan pemerintah daerah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten, apalagi jalan tersebut adalah jalan penghubung antar dua kabupaten.
“Masyarakat ada kesadaran untuk membangun Jembatan dengan biaya sendiri tanpa ada bantuan dari Pemerintah Pusat, Provinsi dan Daerah,” ungkap Theo.
Jelas Theo, ini telah menunjukan bahwa pemerintah sangat tidak mampu melayani masyarakat sebagai warga negaranya.
Perlu diketahu, selama ini beberapa jembatan dan jalan yang menghubungkan Wamena-Kurima rusak dengan kondisi yang sangat parah, yang mengakibatkan masyarakat harus naik turun kendaraan hingga sampai membayar mobil 2 sampai kali lipat.
Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua ( Pembela HAM Se-Dunia ), Theo Hesegem menilai, adanya upaya pembangunan swadaya oleh masyarakat maka dapat dikatakan bahwa ada kegagalan Pemerintah dalam kerangka Otonomi Khusus di Papua.
Upaya Swadaya itu, jelas Theo, mendapat bantuan dari KKapolres Jayawijaya, 30 liter Bensin, Dandim 1702 Jayawijaya berupa Gula dan Kopi, Step anggota Kodim 1702 membantu bensin 20 Liter, secara pribadi, Dirintel Polda Papua membantu Bensin 20 liter, rokok anggur Kupu 2 slop, roko 20 bungkus, dana sebagian kami bayar kayu untuk bangun Jembatan, bantuan ini dalam bentuk pribadi dari kepedulian saja.
Untuk mendapatkan sebuah kayu, kata Theo, harus mengeluarkan biaya sendiri dari rasa kepedulian kami terhadap masyarakat.
Dirinya sangat mengharapkan Kegiatan swadaya masyarakat ini, dapat diperhatikan oleh pemerintah pusat, dalam hal ini Bapak Presiden Rebuplik Indonesia.(NP)












