Wamena (KT) – Bupati Kabupaten Jayawijaya, Jhon Richard Banua, SE.M.Si menepis tudingan atau menolak tuduhan kepada dirinya bahwa telah menjalankan roda pemerintah Kabupaten Jayawijaya menggunakan sistim satu pintu.
Bupati menyebutkan, tidak benar jika ada tuduhan yang sengaja menuduh bahwa birokrasi pemerintah Kabupaten Jayawijaya berjalan satu pintu.
Karena, dirinya sendiri sudah pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Jayawijaya selama dua periode, sehingga sudah sangat matang untuk mengetahui dan menjalankan roda pemerintahan di Kabupaten Jayawijaya.
“Bagaimana saya tidak paham, saya Wakil Bupati dua periode, bagaimana cara kelola pemerintahan seperti apa, jadi kalau ada yang bilang pemerintah kerja satu pintu, saya kira itu tidak bear semua,” kata Bupati Kabupaten Jayawijaya, belum lama ini di Wamena.
Karena, beberapa kepala OPD dan juga yang masih berstatus Pelaksana tugas (Plt), mengelola dana di lingkungan OPDnya masing-masing, artinya kepala OPD bertanggungjawab dan mengelola DPAnya sendiri, termasuk pencairan dana.
“Jangan diluar bicara satu pintu, lihat di dalam dulu, bagaimana pemerintah berjalan, saya kira selama ini berjalan baik,” kata Bupati Kabupaten Jayawijaya.
Salah satu contoh kecil yang diberikan kewenangan ialah saat BKD Kabupaten Jayawijaya menyelesaikan persoalan terkait masalah dana Studi akhir bagi mahasiswa asal Jayawijaya, namun adik-adik Mahasiswa yang meminta agar dapat bertemu langsung dengan Bupati, sehingga hal itu disebut kebijakan Bupati.
Artinya, dalam proses pemerintahan, setiap OPD memiliki keluasan dalam mengatur, menjalankan, dan menggunakan kewenangannya sendiri, dan jika dalam suatu persoalan, OPD tidak dapat menyelesaikannya, maka kebijakan Bupati yang akan diambil sebagai jalan ataupun solusi terkahir.
Bupati Kabupaten Jayawijaya sangat menyayangkan sikap cerdas oknum Ismail Asso yang berbicara mengenai proses pemerintahan satu pintu di Kabupaten Jayawijaya.
Padahal, Bapak Ismail Asso tidak menetap dan tinggal di Kabupaten Jayawijaya, melainkan berada di Jakarta.
“Tinggal di Jakarta lama datang ke Wamena kaget dengan harga di Wamena, kalau Pak Ismail jelas, bicara saya pimpin satu pintu, tapi dibelakangnya ada minta Uang,” kata Bupati Kabupaten Jayawijaya.
Bupati menyebutkan, mengkritis itu baik untuk membangun, namun dirinya lebih tidak suka, jika ada yang mengritisi pemerintahan Jayawijaya, namun ada kepentingan lain dibelakang kritik yang disampaikan.
“Setiap buat berita, kami konfirmasi ujung-ujungnya minta bantuan, saya tidak mau orang seperti itu, kalau bicara untuk bangun daerah itu tidak apa, jangan ada kepentingan,” ungkap Bupati Jayawijaya.
Bupati Jayawijaya mengapresiasi cara dan upaya yang diambil oleh adik-adik Mahasiswa, yang telah bertetap muka dengan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya untuk mencari solusi yang terbaik terkait penyaluran dana Studi Akhir.(NP)












