Jayapura, Kawattimur – Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Timotius Murib, membenarkan adanya penyanderaan terhadap para guru dan tenaga medis di Mapenduma, Kabupaten Nduga belum lama ini. Hal itu ia ungkapkan setelah pihaknya melalui pansus HAM – MRP telah melakukan perjalanan ke Nguda untuk mengecek langsung kebenaran atas fakta yang telah terjadi, dengan memintai keterangan dari warga setempat.
“Mengenai penyandera terhadap para guru dan para medis laporan yang diterima MRP bahwa hal itu benar, penyanderaan itu memang terjadi. Sehingga diperlukan antisipasi agar kejadian yang sama tidak terulang kembali,” ungkap Timotius di Abepura, Jumat 26 Oktober 2018.
Tomotius mengatakan, bahwa para pelaku penyanderaan disertai tidakan asulisa terhadap seorang guru inisial MT (42) adalah beberapa oknum KKB, dan bukan mewakili masyarakat. Oleh karenanya, kelompok tersebut tidak berhak mendapatkan dukungan dari siapa pun.
“Harapan kami mereka sebagai anak-anak orang asli di tempat itu dan mereka juga harus bertanggung jawab untuk kehidupan, kenyamaan anak-anak mereka dan anak-anak cucu mereka di tempat itu. Bukan malah membuat masalah,” katanya.
Ia pun mengimbau jangan sampai peristiwa itu terulang kembali. Mengingat, gerombolan bersenjata yang sering berulah di pegunungan tengah ini tidak hanya berada di satu kabupaten, melainkan ada juga di berbagai kabupaten sekitar pegunungan tengah Papua.
“Dulu mungkin kita kenal di Puncak Jaya, Timika tapi sekarang sudah pindah ke Lanny Jaya. Saya pikir jangan sampai kelompok ini berkembang dan menduduki seluruh wilayah daerah pengunungan,” harapnya cemas.
Meski demikian, Timotius juga mempertanyakan asal usul senjata dan amunisi yang digunakan KKB, sementara di Papua tidak ada pembuatan peralatan tersebut. Dan jika datangnya dari luar, tidak tertutup kemungkinan besar pasti ketahuan oleh petugas keamanan dan juga alat detektor.
“Pasti ada oknum-oknum yang jual beli amunisi itu. Secara institusi ini perlu diawasi. Karena kalau tidak ada amunisi tidak mungkin mereka melakukan tembak menembak antara aparat keamanan dengan KKB,” kata dia.
“Namun kita juga melihat kenapa setiap tahun itu ada penembakan? karena mereka cukup dengan amunisi.
Lalu amunisisi itu dari mana, ini terkesan lucu juga dan semacam baku tipu begitu, kalo orang Papua bilang,” tambah Timotius. (Ara)












